
aespa Terancam Batal Tampil di Jepang Akibat Ketegangan China-Jepang
Awalan Berita – Hubungan antara China dan Jepang semakin tegang setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang disampaikan pada 7 November 2025. Takaichi mengatakan bahwa jika China menyerang Taiwan, Jepang kemungkinan akan mengambil tindakan militer. Pernyataan ini memicu reaksi keras dari China, yang merasa terprovokasi. Ketegangan politik ini kini berimbas pada industri hiburan, khususnya pada grup K-pop asal Korea Selatan, aespa.
“Baca Juga: Vidi Aldiano Bebas dari 3 Gugatan Hak Cipta Lagu Nuansa Bening”
Petisi yang menuntut pembatalan penampilan aespa di acara musik bergengsi Jepang, Kōhaku Uta Gassen, muncul setelah NHK mengumumkan daftar penampil pada 21 November 2025. Petisi ini dipicu oleh kehadiran Ningning, salah satu anggota aespa yang berasal dari China. Lebih dari 70.000 orang telah menandatangani petisi tersebut, yang menganggap penampilan Ningning berpotensi menyinggung sejarah Jepang, terutama tragedi bom atom Hiroshima.
Kontroversi ini berawal dari unggahan Ningning di media sosial pada tahun 2022, yang memamerkan lampu berbentuk ‘awan jamur bom atom’. Banyak warganet Jepang menganggap unggahan tersebut menyinggung perasaan korban tragedi bom atom Hiroshima. Ningning, yang berasal dari Harbin, wilayah yang pernah berada di bawah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, semakin memicu kecurigaan adanya sentimen anti-Jepang.
Pihak NHK telah mengonfirmasi kepada SM Entertainment, agensi yang menaungi aespa, tentang kontroversi tersebut. Agensi menjelaskan bahwa Ningning tidak berniat mengejek atau merendahkan tragedi bom atom Hiroshima. SM Entertainment juga menekankan bahwa unggahan tersebut tidak memiliki konotasi politik, melainkan hanya sebuah kesalahan pemahaman yang disebabkan oleh perbedaan budaya dan konteks.
Selain aespa, grup boy band Jepang JO1 juga terpengaruh oleh ketegangan ini. Fan meeting mereka, yang dijadwalkan minggu ini, dibatalkan dengan alasan “keadaan yang tidak dapat dihindari.” JO1, yang berada di bawah naungan Lapone Entertainment, sebuah perusahaan patungan antara perusahaan hiburan Jepang Yoshimoto Kogyo dan CJ ENM Korea, menghadapi dampak dari ketegangan politik yang melibatkan kedua negara. Pembatalan acara ini menunjukkan betapa besarnya dampak ketegangan politik terhadap industri hiburan internasional.
“Baca Juga: Harga Steam Machine Diprediksi Lebih Mahal dari Konsol $500″
Ketegangan antara China dan Jepang tidak hanya mempengaruhi hubungan politik, tetapi juga mengganggu industri hiburan global. K-Pop, yang memiliki penggemar di seluruh dunia, kini menjadi salah satu sektor yang terdampak. Dengan adanya kontroversi seputar aespa dan JO1. Ini menunjukkan bahwa politik internasional dapat memengaruhi bahkan artis yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Dampak ini dapat memengaruhi persepsi publik terhadap artis dan acara yang terlibat. Serta memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan budaya antarnegara dalam konteks geopolitik yang lebih luas.