
Trump Sebut China Tak Akan Pasok Senjata ke Iran
Awalan Berita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping berjanji tidak akan mengirim bantuan militer ke Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah pertemuan kedua pemimpin di Beijing pada Kamis, 14 Mei 2026.
Kunjungan itu menjadi lawatan pertama presiden AS ke China sejak tahun 2017. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik Timur Tengah dan situasi Selat Hormuz.
Dalam wawancara bersama Fox News, Trump mengatakan Xi Jinping memberikan komitmen penting terkait Iran. Menurut Trump, Presiden China menegaskan Beijing tidak akan mengirimkan perlengkapan militer kepada Teheran.
“Baca Juga: Xi Jinping Diklaim Tertarik Tambah Impor Minyak AS”
Trump menyebut pernyataan tersebut sebagai langkah besar dalam hubungan internasional. Pemerintah AS saat ini memang berupaya menekan Iran agar menerima persyaratan perdamaian yang diajukan Washington.
Selain isu militer, pembahasan kedua negara juga mencakup keamanan jalur energi global. Selat Hormuz kembali menjadi fokus utama karena ketegangan regional memengaruhi distribusi minyak internasional.
Pernyataan Trump langsung menarik perhatian dunia internasional. Hubungan antara China, Iran, dan Amerika Serikat selama ini menjadi faktor penting dalam dinamika geopolitik global.
Pemerintah Amerika Serikat diketahui sedang berupaya membujuk China agar membantu menekan Iran. Washington ingin Teheran menyetujui persyaratan perdamaian AS dan membuka kembali Selat Hormuz.
Iran sebelumnya menutup akses bagi “kapal musuh” sebagai respons terhadap serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Trump menjelaskan bahwa China memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan tersebut. Beijing disebut bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan energi domestik mereka.
Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan Xi Jinping memahami pentingnya menjaga jalur perdagangan energi tetap terbuka. China disebut ingin memastikan pasokan minyak mereka tidak terganggu oleh konflik regional.
Pemerintah AS memandang China memiliki pengaruh penting terhadap Iran dalam isu ini. Hubungan ekonomi dan energi antara Beijing dan Teheran selama ini cukup erat di tengah tekanan sanksi Barat.
Washington berharap dukungan diplomatik China dapat membantu meredakan ketegangan di kawasan. Stabilitas Selat Hormuz dianggap sangat penting bagi ekonomi global dan pasar energi internasional.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut memberikan penjelasan mengenai hasil komunikasi dengan pihak China. Dalam wawancara bersama NBC News, Rubio menyebut Beijing tidak mendukung militerisasi Selat Hormuz.
Rubio juga mengatakan China menolak gagasan Iran untuk mengenakan bea masuk terhadap kapal yang melewati jalur tersebut. Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa Beijing ingin menjaga stabilitas perdagangan internasional.
Selain Rubio, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memberikan komentar terkait peran China. Dalam wawancara bersama CNBC, ia mengatakan Beijing kemungkinan akan membantu dari belakang layar.
Menurut Bessent, China diperkirakan ikut mendorong pemulihan akses normal di Selat Hormuz. Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga kestabilan pasokan energi dunia.
Sikap China terhadap konflik Timur Tengah memang menjadi perhatian banyak negara. Sebagai salah satu konsumen energi terbesar dunia, Beijing memiliki kepentingan besar terhadap keamanan jalur perdagangan minyak.
Meski begitu, pemerintah China belum memberikan detail resmi mengenai bentuk keterlibatan mereka. Beijing sejauh ini masih menekankan pentingnya kerja sama internasional dan stabilitas kawasan.
Media Iran melaporkan beberapa kapal asal China tetap diizinkan melintasi Selat Hormuz. Informasi tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan terkait pembatasan akses jalur pelayaran internasional.
Pejabat Iran disebut menegaskan bahwa kapal komersial dari negara sahabat masih dapat melewati selat tersebut. Namun, kapal harus mengikuti instruksi dan aturan dari militer Iran selama melintas.
Kebijakan itu memperlihatkan hubungan strategis antara Iran dan China masih berjalan di tengah tekanan geopolitik global. China selama ini dikenal sebagai salah satu mitra dagang utama Iran dalam sektor energi.
Penutupan sebagian akses Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran pasar internasional. Jalur tersebut menjadi titik penting bagi distribusi minyak dari Timur Tengah menuju Asia dan berbagai negara lain.
Gangguan terhadap jalur pelayaran energi dapat memengaruhi harga minyak dunia secara signifikan. Karena itu, situasi di kawasan terus dipantau oleh pelaku pasar dan pemerintah berbagai negara.
Iran sendiri menyatakan tindakan mereka merupakan respons terhadap operasi militer AS dan Israel. Ketegangan tersebut membuat situasi keamanan di Timur Tengah semakin kompleks.
“Baca Juga: The Legend of Zelda Live Action Resmi Dimajukan”
Dalam pidato pembukanya sebelum bertemu Trump, Xi Jinping menekankan pentingnya kerja sama antara China dan Amerika Serikat. Ia menyebut kedua negara perlu bekerja sama dalam isu yang memiliki kepentingan bersama.
Meski tidak secara langsung menyinggung krisis Timur Tengah, pernyataan Xi dipandang sebagai ajakan menjaga stabilitas global. Hubungan antara Washington dan Beijing saat ini memang berada dalam situasi yang kompleks.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri China tetap mengkritik sanksi AS terhadap perusahaan China. Beijing menyebut sanksi tersebut ilegal dan meminta perusahaan terkait untuk tidak mematuhinya.
Amerika Serikat sendiri masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Komando Pusat AS mengungkap telah mengalihkan 72 kapal dan menonaktifkan empat kapal lainnya sejak 13 April.
Situasi tersebut menunjukkan ketegangan geopolitik masih berlangsung di berbagai sektor. Isu energi, perdagangan, dan keamanan internasional kini saling berkaitan dalam hubungan antarnegara besar.
Meski memiliki perbedaan kepentingan, China dan Amerika Serikat tampaknya tetap berusaha menjaga jalur komunikasi terbuka. Stabilitas global dan keamanan energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kedua negara terus berdialog.