
NVIDIA Pangkas Produksi GeForce RTX Akibat Kelangkaan DRAM
Awalan Berita – Pasokan DRAM global mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan untuk komputasi AI. Dampak ini tidak hanya memengaruhi harga DRAM, tetapi juga produksi perangkat keras lain seperti kartu grafis. Laporan dari Board Channels dan Benchlife menyebutkan tren ini bakal berlanjut sepanjang 2026. Kondisi ini menjadi perhatian bagi produsen PC, laptop, dan konsol gaming. Para analis memperingatkan bahwa kelangkaan DRAM dapat memicu kenaikan harga di seluruh ekosistem perangkat elektronik. Fenomena serupa pernah terjadi pada 2020 ketika harga GPU melonjak karena kekurangan memori. Industri teknologi harus menyesuaikan strategi produksi dan distribusi agar pasokan tetap stabil.
“Baca Juga: Xiaomi 17 Ultra Dikonfirmasi, Lanjutkan Kolaborasi dengan Leica”
NVIDIA berencana memangkas produksi kartu grafis GeForce RTX 5000 sebesar 30 hingga 40% pada paruh pertama 2026. Pemangkasan ini fokus pada model entry-level seperti GeForce RTX 5060 Ti 16 GB dan RTX 5070 Ti. Kedua model ini menjadi yang paling terdampak karena kebutuhan DRAM tinggi. NVIDIA ingin mengalihkan kapasitas produksi ke GPU server dan AI yang lebih menguntungkan. Akibatnya, ketersediaan stok kartu grafis akan menipis secara signifikan. Tren ini memicu kekhawatiran bagi gamer dan pembuat konten yang mengandalkan GPU terbaru. Pasar kemungkinan menghadapi harga jual lebih tinggi dari normal.
Pengurangan volume produksi kartu grafis diprediksi meningkatkan harga GPU secara global. Kekurangan stok akan menimbulkan kelangkaan seperti yang terjadi pada 2020. Harga kartu grafis GeForce RTX 5000 bisa melampaui harga eceran resmi. Konsumen yang ingin membeli GPU entry-level harus siap menghadapi penundaan pengiriman. Produsen PC juga akan menyesuaikan harga build custom mereka. Situasi ini kemungkinan mendorong pasar GPU bekas lebih aktif. Gamer dan profesional kreatif perlu memperhatikan tren harga dan stok. Kelangkaan DRAM menjadi faktor utama di balik kenaikan harga GPU ini.
Keterbatasan DRAM juga berdampak pada laptop, smartphone, dan konsol. Analis memperkirakan harga laptop akan naik sekitar 20% dari normal. Notebook dengan RAM 8 GB dan smartphone dengan RAM 4 GB akan lebih umum di pasaran. Konsol seperti Nintendo Switch 2 dan Steam Machine juga diprediksi lebih mahal. Produsen mungkin menunda perilisan atau mengurangi kapasitas memori untuk menyesuaikan biaya. Kondisi ini memengaruhi daya beli konsumen dan strategi pemasaran. Dampak meluas ini menunjukkan bagaimana satu komponen kritis dapat memengaruhi seluruh industri.
“Baca Juga: Meta Dikabarkan Untung Rp 50 T dari Iklan Penipuan China”
Para analis memprediksi kekurangan DRAM bakal meluas sepanjang 2026 karena kebutuhan AI meningkat. Perusahaan teknologi harus menyesuaikan produksi, stok, dan harga. NVIDIA, produsen laptop, smartphone, dan konsol perlu mengantisipasi lonjakan biaya komponen. Konsumen disarankan memantau harga dan mempertimbangkan pembelian lebih awal. Strategi diversifikasi pasokan DRAM dan pengelolaan inventaris menjadi penting. Industri juga bisa mengadopsi teknologi memori alternatif atau optimisasi efisiensi RAM. Kelangkaan ini menekankan hubungan erat antara tren AI dan pasokan komponen elektronik. Dampaknya bisa bertahan hingga paruh kedua 2026.