
RTX 5090D V2 Meluncur di China, Nvidia Sesuaikan Spesifikasi demi Regulasi
Awalan Berita – Pasar China memegang peran penting dalam bisnis kartu grafis kelas atas Nvidia. Namun, ketegangan geopolitik dan regulasi ekspor teknologi dari pemerintah Amerika Serikat memaksa Nvidia menyesuaikan strategi pemasaran mereka. Untuk menghindari larangan ekspor, perusahaan asal California ini resmi meluncurkan RTX 5090D V2, varian khusus yang disesuaikan agar bisa tetap dijual di China.
“Baca Juga: Sony Ubah Strategi PS5 untuk Atasi Dampak Tarif Trump”
Pemerintah AS memperketat pengawasan ekspor komponen teknologi tinggi ke China sejak awal 2024. Aturan baru melarang distribusi GPU yang memiliki bandwidth memori (VRAM) di atas 1.400 GB/s, dengan alasan keamanan nasional. Tujuan utamanya adalah membatasi akses terhadap teknologi yang dapat digunakan untuk kecerdasan buatan (AI) militer dan pengembangan superkomputer.
GeForce RTX 5090 reguler, yang memiliki bandwidth 1.792 GB/s, termasuk dalam daftar yang dilarang. Hal ini otomatis membuat produk unggulan Nvidia tidak bisa masuk ke pasar China, memicu kebutuhan akan versi alternatif.
Menanggapi kebijakan tersebut, Nvidia menghadirkan RTX 5090D V2 sebagai versi modifikasi dari lini RTX 5090. Spesifikasi teknis GPU ini telah dipangkas agar memenuhi ambang batas regulasi.
Detail Spesifikasi RTX 5090D V2:
Memori: 24 GB GDDR7 (dari 32 GB pada RTX 5090)
Memory Bus: 384-bit (turun dari 512-bit)
Bandwidth: 1.344 GB/s (di bawah batas maksimal 1.400 GB/s)
CUDA Cores: 21.760 unit
Tensor Cores (Gen 5): 680 unit, AI performance 2.375 TOPS
RT Cores (Gen 4): 170 unit, Ray Tracing 318 TFLOPS
TDP: 575 watt (sama dengan versi global)
Versi ini menggantikan RTX 5090D generasi pertama, yang tetap dibatasi karena spesifikasinya terlalu mendekati model global.
Meski mengalami pemangkasan spesifikasi, performa RTX 5090D V2 nyaris tidak jauh berbeda dari versi sebelumnya. Menurut laporan situs teknologi Expreview, GPU ini hanya mengalami penurunan performa sekitar 2% dibanding RTX 5090D generasi pertama.
Artinya, gamer, kreator konten, dan pengguna AI di China tetap bisa menikmati kemampuan grafis kelas atas, meskipun dalam batas regulasi ekspor AS.
RTX 5090D V2 dibanderol seharga 16.499 yuan atau sekitar Rp37,2 juta. Harga ini setara dengan versi sebelumnya, meskipun spesifikasinya lebih rendah. Menariknya, harga ini bahkan melampaui RTX 5090 versi AS, yang dijual seharga USD 2.000 (sekitar Rp32,4 juta).
Perbedaan harga ini diduga dipengaruhi oleh pajak impor, biaya distribusi lokal, serta strategi harga premium yang diterapkan Nvidia di pasar tertutup seperti China.
“Baca Juga: Roblox Didesak Ganti Pimpinan Usai Petisi Pengguna Meningkat”
Peluncuran RTX 5090D V2 menjadi contoh bagaimana perusahaan teknologi global harus beradaptasi terhadap dinamika politik dan regulasi internasional. Dengan tetap menghadirkan produk berkinerja tinggi yang patuh aturan, Nvidia berhasil mempertahankan eksistensinya di salah satu pasar GPU terbesar dunia.
Ke depan, fleksibilitas dalam desain dan distribusi produk kemungkinan akan menjadi standar baru, seiring makin ketatnya pengawasan teknologi lintas negara. Nvidia menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap regulasi tidak harus berarti kehilangan daya saing, terutama di sektor yang bergerak cepat seperti industri GPU dan AI.