
Sejak Q4 2025, Harga Kontrak DRAM Naik Tajam
Awalan Berita – Memasuki Februari 2026, tanda-tanda meredanya krisis RAM global masih belum terlihat. Harga memori DRAM justru terus mengalami lonjakan yang semakin agresif. Kenaikan harga tersebut dilaporkan telah menembus level yang tidak wajar dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam beberapa kasus, harga kontrak DRAM tercatat meningkat hingga 1,25 kali lipat secara tahunan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku industri teknologi. Produsen perangkat keras, vendor komponen, hingga konsumen akhir mulai merasakan dampaknya. Situasi ini mempertegas bahwa krisis memori belum mencapai titik puncaknya. Tekanan pasar diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa kuartal ke depan.
“Baca Juga: Project Genie 3 Google Picu Anjloknya Saham Studio Game”
Laporan terbaru dari DRAMeXchange mengungkapkan dinamika negosiasi harga yang semakin timpang. Saat ini, produsen DRAM memegang kendali penuh dalam penentuan harga kontrak. Informasi tersebut disorot oleh pengamat industri Jukan05. Salah satu manufaktur utama, Micron, dilaporkan telah menaikkan harga jual secara drastis. Kenaikan harga tersebut berada di kisaran 115 hingga 125 persen dibandingkan harga kuartal keempat 2025. Kondisi ini menunjukkan pasokan memori yang semakin ketat. Produsen tidak memiliki insentif untuk menurunkan harga dalam waktu dekat. Posisi tawar pembeli besar pun semakin melemah.
Laporan lanjutan pada Januari 2026 memperlihatkan ketatnya ruang negosiasi bagi OEM dan penyedia layanan cloud. Para pembeli berskala besar kini menghadapi tekanan signifikan dari sisi pemasok. Mereka bahkan diwajibkan mengajukan kuota pemesanan lebih awal pada Februari. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan harga lanjutan. Negosiasi harga dilaporkan berlangsung hampir setiap minggu. Ketidakpastian tersebut menyulitkan perencanaan produksi jangka menengah. OEM dan CSP terpaksa menerima harga tinggi demi menjaga kontinuitas pasokan. Kondisi ini memperburuk margin keuntungan perusahaan. Dalam jangka pendek, biaya produksi perangkat dipastikan meningkat secara signifikan.
Lonjakan harga DRAM mulai berdampak langsung pada harga perangkat konsumen. Sejumlah merek smartphone dan PC dilaporkan terpaksa menaikkan harga ritel. Kenaikan tersebut dilakukan untuk menutup biaya komponen yang melonjak tajam. Dampaknya terasa pada penurunan minat beli konsumen. Penjualan perangkat elektronik diperkirakan melambat sepanjang 2026. Beberapa produsen smartphone bahkan dikabarkan akan mengurangi jumlah pengiriman unit. Strategi ini dilakukan untuk menekan risiko stok tidak terserap pasar. Kondisi ini berpotensi memengaruhi rantai pasok global. Industri elektronik konsumen menghadapi tekanan ganda dari sisi biaya dan permintaan.
“Baca Juga: Bocoran iQOO 15 Ultra Andalkan Periscope Telephoto”
Data terbaru dari TrendForce memberikan gambaran yang lebih mengkhawatirkan. Lembaga riset tersebut memperkirakan harga DRAM akan kembali naik signifikan pada kuartal berjalan. Kenaikan diprediksi berada di kisaran 90 hingga 95 persen. Proyeksi ini menandakan tekanan harga belum mencapai puncaknya. Otomatis, harga komponen PC dan smartphone akan kembali terdampak. Konsumen akhir berpotensi menghadapi harga perangkat yang semakin mahal. Pelaku industri berharap adanya peningkatan kapasitas produksi global. Namun, dalam jangka pendek, pasar masih dibayangi ketidakpastian. Krisis RAM diperkirakan tetap menjadi isu utama sepanjang 2026.