
Ghana Tangkap Nabi Gadungan Terkait Ramalan Bencana
Awalan Berita – Seorang pria di Ghana yang mengaku sebagai nabi dan selama berbulan-bulan menyebarkan ketakutan tentang banjir kiamat akhirnya ditangkap oleh pihak kepolisian. Penangkapan ini mengakhiri rangkaian klaim kontroversial yang sempat menyita perhatian publik dan memicu kemarahan luas di media sosial.
“Baca Juga: Pasca Serangan AS, Venezuela Berlakukan Keadaan Darurat”
Evans Eshun, yang dikenal luas dengan nama Ebo Noah, selama berbulan-bulan menyatakan bahwa dunia akan dilanda banjir global besar. Ia memperingatkan bahwa bencana tersebut akan dimulai pada Hari Natal dan berlangsung selama tiga tahun penuh. Klaim ini ia sebarkan melalui berbagai khotbah, unggahan video, serta pesan daring yang menjangkau ribuan pengikutnya di Ghana dan luar negeri.
Eshun menyebut bahwa peringatan tersebut berasal langsung dari Tuhan. Ia mengaku menerima wahyu ilahi yang menyebutkan bahwa hanya mereka yang mempersiapkan diri sejak dini yang akan selamat dari kehancuran global. Narasi tersebut menciptakan ketakutan di kalangan pengikutnya, terutama mereka yang mempercayai pesan-pesan keagamaannya tanpa mempertanyakan kebenarannya.
Untuk menghadapi bencana yang diklaim akan datang, Eshun mendesak para pengikutnya menyumbangkan uang. Dana tersebut disebut akan digunakan untuk membangun bahtera modern sebagai sarana keselamatan umat manusia. Pada Agustus lalu, ia mengklaim Tuhan memerintahkannya membangun sepuluh kapal kayu besar.
Selama beberapa bulan, Eshun secara aktif mengunggah video yang menampilkan proses pembangunan kapal. Ia tampak mengawasi pekerja dan menunjukkan rangka kapal sebagai bukti bahwa persiapan sedang berjalan. Unggahan ini semakin memperkuat keyakinan sebagian pengikut bahwa nubuat tersebut nyata dan mendesak.
Masalah mulai muncul ketika laporan-laporan di media sosial menuding bahwa dana sumbangan tidak sepenuhnya digunakan untuk membangun bahtera. Eshun dituduh memakai sebagian dana tersebut untuk membeli mobil mewah Mercedes-Benz. Tuduhan ini dengan cepat memicu kemarahan publik dan menimbulkan kecurigaan bahwa proyek bahtera hanyalah kedok penipuan.
Kontroversi tersebut menyebar luas di internet dan memicu perdebatan sengit. Banyak warganet menilai tindakan Eshun sebagai bentuk eksploitasi kepercayaan agama demi keuntungan pribadi. Tekanan publik terhadap aparat penegak hukum pun meningkat seiring tidak terjadinya banjir yang dijanjikan.
Ketika 26 Desember berlalu tanpa tanda-tanda banjir global, Eshun kembali menyampaikan pesan baru. Ia bersikeras bahwa doanya dan puasa selama tiga minggu telah berhasil membujuk Tuhan untuk menunda bencana tersebut. Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa Tuhan memberikan penebusan dan waktu tambahan bagi umat manusia.
Eshun bahkan mengklaim menerima visi baru yang menyebutkan perlunya membangun bahtera tambahan di luar sepuluh kapal yang sudah direncanakan. Pernyataan ini justru semakin memperkuat kemarahan publik karena dianggap sebagai upaya mempertahankan klaim palsu meski ramalan awal terbukti keliru.
“Baca Juga: CES 2026 Jadi Panggung Lineup Baru LG Gram Aerominum”
Polisi Ghana akhirnya menangkap Evans Eshun pada 31 Desember. Penangkapan ini dikonfirmasi kepada sejumlah media dan disambut positif oleh masyarakat. Banyak pihak menilai langkah tersebut penting untuk mencegah penyebaran ketakutan berbasis klaim keagamaan yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa hari sebelum ditangkap, Eshun sempat tampil di atas panggung dalam konser rapper Ghana, Sarkodie. Di hadapan penonton, ia mengajak semua orang bersukacita karena akhir dunia disebut telah ditunda. Aksi tersebut kini dipandang sebagai simbol puncak kontroversi yang akhirnya berujung pada proses hukum. Kasus ini kembali membuka diskusi tentang perlunya pengawasan terhadap klaim keagamaan yang berpotensi merugikan masyarakat luas.