Awalan Berita – Lebih dari 100 organisasi di seluruh dunia menjadi korban serangan siber yang memanfaatkan kerentanan dalam perangkat lunak SharePoint milik Microsoft. Salah satu yang terdampak adalah Badan Keamanan Nuklir Nasional Amerika Serikat (NNSA), lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan senjata nuklir AS.
“Baca Juga: YouTube Shorts Hadirkan AI Pembuat Video dari Foto Secara Instan”
Menurut laporan Bloomberg pada Selasa, 22 Juli 2025, peretasan ini merupakan bagian dari serangan luas yang memanfaatkan celah keamanan pada server SharePoint yang dijalankan secara mandiri oleh pelanggan. Microsoft telah mengonfirmasi bahwa kelompok peretas yang didukung pemerintah China berada di balik aksi ini.
Tiga Kelompok Peretas China Dituding Jadi Dalang Serangan
Microsoft mengidentifikasi tiga kelompok peretas yang berbasis di China sebagai pelaku utama: Linen Typhoon, Violet Typhoon, dan Storm-2603. Ketiganya diketahui mengeksploitasi celah di sistem SharePoint untuk menyusup ke jaringan organisasi yang menjalankan server tersebut secara lokal.
Serangan ini tidak hanya menargetkan lembaga pemerintahan, tetapi juga perusahaan swasta, lembaga riset, dan institusi lain di lebih dari 10 negara. Aktivitas ini menandai meningkatnya intensitas dan kompleksitas serangan siber berskala negara.
Kerentanan SharePoint Diketahui Usai Kompetisi Siber di Berlin
Kerentanan dalam perangkat lunak SharePoint pertama kali teridentifikasi dalam sebuah kompetisi keamanan siber di Berlin pada Mei 2025. Microsoft merilis patch keamanan pada 8 Juli sebagai respons terhadap temuan tersebut.
Namun, menurut perusahaan keamanan Crowdstrike, kelompok peretas berhasil menemukan cara untuk melewati patch tersebut. Mereka mulai memanfaatkan celah itu sejak 7 Juli, hanya satu hari sebelum Microsoft mengedarkan perbaikan.
Lebih dari 100 Server Diretas, Termasuk di Indonesia
Laporan dari perusahaan keamanan Eye menyebutkan bahwa lebih dari 100 server telah terinfeksi, dengan setidaknya 60 organisasi menjadi korban. Negara-negara yang terdampak antara lain Brasil, Kanada, Spanyol, Indonesia, dan Amerika Serikat.
Meskipun Badan Keamanan Nuklir Nasional AS termasuk dalam daftar korban, Bloomberg melaporkan tidak ada indikasi bahwa data rahasia atau sensitif berhasil dicuri dalam serangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa peretasan lebih difokuskan pada akses awal atau pengintaian, bukan pencurian data eksplisit.
“Baca Juga: Meta Perkuat Keamanan Akun Remaja dengan Fitur Terbaru di Instagram”
Microsoft dan Pemerintah Didesak Perkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Serangan ini memperlihatkan betapa pentingnya pengawasan dan respons cepat terhadap kerentanan software. Terutama pada sistem yang digunakan untuk kepentingan nasional dan internasional. Microsoft menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sistem keamanan produknya, termasuk mempercepat distribusi patch dan memperluas kemampuan deteksi ancaman. Di sisi lain, pemerintah-pemerintah yang terdampak didorong untuk meningkatkan protokol keamanan digital guna mencegah kejadian serupa. Dengan eskalasi serangan siber yang melibatkan aktor negara, kolaborasi antara sektor publik, swasta, dan komunitas keamanan global menjadi semakin penting dalam melindungi data strategis dan infrastruktur digital kritis.

