
Trump Kaji Opsi Militer AS di Selat Hormuz
Awalan Berita – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan pengambilalihan Selat Hormuz oleh militer AS. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara telepon dengan CBS News pada Senin, 9 Maret 2026.
Trump menyampaikan komentarnya dari klub golfnya di Doral, Florida. Ia mengatakan langkah tersebut dipikirkan setelah Iran menutup jalur strategis itu di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Baca Juga: KPK Tahan Yaqut dalam Kasus Korupsi Kuota Haji”
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap hari.
Penutupan jalur ini oleh Iran memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasar energi dunia. Banyak negara sangat bergantung pada jalur tersebut untuk distribusi minyak dan gas.
Karena itu pernyataan Trump mengenai kemungkinan intervensi militer langsung menarik perhatian komunitas internasional.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Jalur laut ini menjadi penghubung utama bagi ekspor energi dari negara-negara Timur Tengah.
Setiap gangguan di wilayah tersebut dapat memengaruhi perdagangan global. Harga minyak dunia biasanya bereaksi cepat terhadap ketegangan di kawasan ini.
Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk bertindak jika jalur tersebut terus ditutup. Namun ia tidak menjelaskan secara rinci bentuk pengambilalihan yang dimaksud.
Ia juga tidak memberikan detail apakah langkah tersebut akan melibatkan kehadiran militer permanen. Pernyataan tersebut lebih bersifat indikasi mengenai kemungkinan respons strategis AS.
Trump juga mengklaim bahwa beberapa kapal mulai kembali memasuki jalur tersebut. Ia memperingatkan Iran agar tidak mencoba mengganggu pelayaran internasional.
Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyampaikan penilaiannya mengenai kondisi militer Iran. Ia mengatakan kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan setelah serangkaian serangan.
Trump menyebut banyak fasilitas militer Iran telah dihancurkan. Ia mengklaim bahwa angkatan laut, angkatan udara, dan infrastruktur komunikasi Iran telah mengalami kerusakan besar.
Menurutnya, kapasitas militer Iran saat ini berada pada titik yang sangat terbatas. Ia bahkan menyatakan bahwa Iran hampir tidak memiliki kemampuan militer yang tersisa.
Trump juga mengatakan bahwa jumlah rudal Iran telah berkurang drastis. Selain itu, fasilitas produksi drone disebut menjadi salah satu target utama serangan militer.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi bahwa operasi militer Amerika Serikat berjalan sesuai rencana.
Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal. Ia mengatakan kampanye militer tersebut hampir selesai.
Menurut Trump, militer AS telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam minggu pertama operasi. Jumlah tersebut menunjukkan intensitas serangan yang sangat tinggi.
Awalnya, operasi militer diperkirakan berlangsung sekitar satu bulan. Namun Trump mengatakan perkembangan di lapangan membuat operasi berjalan jauh lebih cepat dari jadwal.
Ia menggambarkan hasil operasi tersebut sebagai keberhasilan militer yang signifikan. Pernyataan ini menegaskan keyakinannya bahwa konflik tersebut hampir mencapai tahap akhir.
“Baca Juga: Honor Garap Laptop Gaming Core i7-14650HX dan RTX 5060″
Meski Trump menyatakan perang hampir selesai, sinyal berbeda muncul dari Departemen Pertahanan AS. Pada hari yang sama, Pentagon mengunggah pesan di platform X yang bernada lebih agresif.
Pesan tersebut memuat frasa “Kita Baru Saja Memulai Perjuangan” serta kata “tanpa ampun.” Unggahan ini menunjukkan sikap yang lebih keras dibandingkan pernyataan Trump.
Perbedaan nada antara Gedung Putih dan Pentagon memunculkan berbagai pertanyaan. Pengamat menilai perbedaan ini dapat mencerminkan dinamika strategi militer yang masih berkembang.
Beberapa analis juga menilai kemungkinan pengambilalihan Selat Hormuz dapat menjadi fase baru konflik. Jika langkah tersebut benar terjadi, dampaknya dapat memengaruhi stabilitas geopolitik global.
Situasi ini membuat banyak negara terus memantau perkembangan konflik dengan cermat. Stabilitas jalur energi internasional tetap menjadi perhatian utama dalam dinamika konflik tersebut.