
700 Ribu Pengguna Ikut Aksi #QuitGPT
Awalan Berita – OpenAI tengah menghadapi tekanan publik menyusul laporan donasi politik salah satu pendirinya, Greg Brockman. Laporan menyebut Brockman bersama istrinya, Anna, menyumbangkan US$25 juta atau sekitar Rp419 miliar. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung Presiden AS Donald Trump dan super PAC MAGA Inc. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh The Verge.
“Baca Juga: Elon Musk Sebut Uang Tak Menjamin Kebahagiaan”
Temuan tersebut memicu reaksi keras di ruang publik digital. Sejumlah pengguna menyerukan boikot terhadap ChatGPT melalui tagar #QuitGPT. Nama Brockman kini disandingkan dengan sejumlah tokoh teknologi yang disebut mendekat ke lingkaran Trump. Sorotan meningkat karena OpenAI memiliki peran besar dalam ekosistem kecerdasan buatan global.
Kontroversi ini muncul di tengah perdebatan luas tentang netralitas perusahaan teknologi. Ketika figur eksekutif terlibat dalam aktivitas politik besar, dampaknya bisa meluas ke persepsi publik. OpenAI belum mengeluarkan pernyataan rinci terkait dampak donasi tersebut terhadap kebijakan internal perusahaan.
Selain isu donasi politik, OpenAI juga dikaitkan dengan tuduhan kolaborasi tidak langsung dengan pemerintah. Aktivis melaporkan bahwa U.S. Immigration and Customs Enforcement menggunakan teknologi GPT-4. Teknologi tersebut disebut dipakai untuk menyaring résumé dalam operasi deportasi massal.
Isu ini memicu kekhawatiran terkait etika penggunaan AI. Kritikus menilai pemanfaatan model bahasa dalam konteks sensitif perlu pengawasan ketat. Keterlibatan teknologi dalam kebijakan imigrasi menjadi topik sensitif di Amerika Serikat. Perdebatan ini memperkuat sentimen negatif terhadap perusahaan.
Sejarawan Rutger Bergman secara terbuka menyerukan boikot. Dalam video yang diunggah di LinkedIn, ia mengajak masyarakat membatalkan akun ChatGPT. Bergman juga mengkritik posisi OpenAI terhadap regulasi AI yang lebih ketat. Menurutnya, konsumen memiliki kekuatan melalui pilihan ekonomi.
Bergman menyoroti penurunan pangsa pasar OpenAI dalam setahun terakhir. Pangsa pasar disebut turun dari 87 persen menjadi 65 persen. Data ini dipandang sebagai indikasi bahwa pengguna mulai mencari alternatif. Beberapa nama yang disebut antara lain Claude, Gemini, dan model open-source.
Persaingan di sektor AI memang semakin ketat. Banyak perusahaan menghadirkan model bahasa dengan fitur serupa. Sebagian pengguna menyatakan hasil alternatif setara atau lebih baik. Dinamika ini memperlihatkan pergeseran lanskap industri.
Penurunan pangsa pasar tidak hanya dipengaruhi faktor politik. Evaluasi performa model juga menjadi pertimbangan pengguna. Beberapa diskusi publik menyinggung kualitas model terbaru. Faktor teknis dan etika kini saling berkaitan dalam keputusan konsumen.
Tagar #QuitGPT mulai ramai sejak akhir Januari. Forum seperti Reddit dipenuhi kesaksian pengguna yang membatalkan langganan. Alasan yang muncul bervariasi, mulai dari isu performa hingga keberatan politik. Sebagian pengguna menyampaikan alasan secara terbuka di survei pembatalan.
Gerakan ini diklaim telah mengumpulkan lebih dari 700.000 pendaftar. Namun OpenAI masih mencatat hampir 900 juta pengguna aktif mingguan pada akhir 2025. Skala pengguna global tersebut menjadi penopang utama perusahaan. Dampak finansial boikot masih menjadi tanda tanya.
Profesor pemasaran Scott Galloway menilai fenomena ini sebagai bentuk aktivisme ekonomi. Menurutnya, konsumen kini lebih sadar terhadap etika perusahaan teknologi. Ketika isu politik dan AI bertemu, respons bisa lebih tajam. Konsumen dapat menggunakan keputusan berlangganan sebagai instrumen protes.
“Baca Juga: Expansion Skala Besar Disiapkan untuk Monster Hunter Wilds”
Resistensi terhadap OpenAI juga disebut muncul dari kalangan industri teknologi. Sejumlah pekerja Silicon Valley mendorong perusahaan mereka meninjau kerja sama dengan ICE. Memo internal memperlihatkan adanya diskusi di tingkat eksekutif. Beberapa pemimpin teknologi menyerukan pendekatan deeskalasi.
Gerakan QuitGPT kini terhubung dengan kampanye lebih luas bertajuk Resist and Unsubscribe. Kampanye ini mengajak publik membatalkan langganan berbagai platform Big Tech. Tujuannya adalah menekan perusahaan yang dianggap terlibat dalam agenda politik tertentu.
Sosiolog Dana Fisher menilai efektivitas boikot bergantung pada skala partisipasi. Menurutnya, perubahan kebijakan baru mungkin terjadi jika dampak finansial signifikan. Sementara itu, pakar media David Karpf melihat momentum ini sebagai sinyal perubahan sikap publik. Ia memprediksi konsumen akan semakin selektif terhadap keterlibatan politik perusahaan teknologi di masa depan.