
Starbucks Tutup Ratusan Gerai di AS-Kanada, Siapkan Dana Rp16,7 T Restrukturisasi
Awalan Berita – Starbucks akan menutup ratusan gerai yang berkinerja buruk di Amerika Utara sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran senilai USD 1 miliar. Langkah ini dipimpin CEO Brian Niccol untuk memperbaiki penjualan yang terus menurun. Diperkirakan, jumlah gerai Starbucks di AS dan Kanada akan berkurang sekitar 1 persen hingga akhir tahun fiskal 2025, atau setara dengan beberapa ratus toko. Penutupan ini termasuk kafe ikonik di Seattle yang juga dikenal sebagai simbol perjuangan serikat pekerja Starbucks.
“Baca Juga: Bea Cukai Bongkar Penjualan Rokok Ilegal di Platform E-commerce”
Brian Niccol, sejak bergabung, memprioritaskan investasi pada toko-toko Starbucks untuk mempercepat waktu pelayanan dan meningkatkan pengalaman pelanggan. Selain itu, ia memangkas lapisan manajemen untuk meningkatkan efisiensi operasional. Penurunan penjualan triwulanan di AS menjadi perhatian utama, terutama karena permintaan terhadap produk latte premium menurun. Persaingan yang semakin ketat juga menjadi faktor yang mendorong langkah restrukturisasi ini.
Dalam surat kepada karyawan, Niccol menjelaskan bahwa gerai yang tidak mampu memberikan pengalaman pelanggan dan mitra sesuai standar atau tidak menunjukkan potensi finansial akan ditutup. Ia menegaskan bahwa penutupan ini bertujuan memperkuat merek dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Tahun fiskal ini, Starbucks menargetkan jumlah gerai beroperasi sekitar 18.300 di AS dan Kanada, lebih rendah dari 18.734 gerai yang tercatat pada Juli 2025.
Analis dari TD Cowen memperkirakan sekitar 500 gerai Starbucks akan terdampak penutupan ini di AS dan Kanada. Serikat pekerja tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk memastikan pekerja terdampak dapat dipindahkan ke gerai lain. Guna meminimalkan dampak sosial dan ekonomi bagi karyawan. Penutupan sebagian besar gerai diperkirakan rampung pada akhir tahun fiskal ini, menandai perubahan strategis dalam jaringan toko Starbucks di Amerika Utara.
“Baca Juga: YouTube Bawa Fitur Premium ke Lebih Banyak Perangkat Populer”
Penutupan gerai menjadi bagian dari strategi jangka panjang Starbucks untuk memperbaiki penjualan dan menghadapi persaingan yang semakin ketat. Niccol menilai bahwa perbaikan pengalaman pelanggan dan efisiensi operasional menjadi kunci keberhasilan ke depan. Selain itu, perusahaan akan terus berinovasi pada produk dan layanan untuk menarik konsumen yang kini lebih selektif. Restrukturisasi ini diharapkan dapat mengembalikan posisi Starbucks sebagai pemimpin pasar kopi di Amerika Utara dan memperkuat fondasi bisnis untuk pertumbuhan masa depan.
Dengan penutupan dan restrukturisasi yang terencana, Starbucks berupaya menyesuaikan diri dengan perubahan tren pasar dan preferensi konsumen. Hal ini mencerminkan respons adaptif terhadap dinamika industri yang menuntut inovasi dan efisiensi demi menjaga relevansi merek dan kepuasan pelanggan.